Anda (orang normal) dan saya (orang cacat) sama-sama mengantongi uang Rp. 14 juta untuk membeli sebuah motor on the road. Dengan gagahnya anda bisa langsung menaikinya pulang, sementara saya kebingungan, bagaimana menaikinya pulang sedang dua tungkai kaki saya layu tak berkembang. Saya masih harus merogoh kocek lagi kurang-lebih Rp. 4 juta untuk modifikasi agar bisa membawa motor pulang.

Singkatnya, harga sebuah motor untuk anda hanya rp. 14 juta, sedangkan harga sebuah motor untuk saya jadi rp. 18 juta. Artinya …anda selama ini mungkin kurang menyadari bahwa telah mendapatkan Subsidi Langsung Tunai dari Tuhan senilai Rp. 4 juta dalam setiap pembelian motor, belum item pembelian untuk kebutuhan yg lain, anda selalu mendapatkan subsidi langsung tunai, bahkan dalam hal amal ibadah keseharian atau actifity of daily living, anda masih mendapatkan kemudahan-kemudahan. Bagi kami, untuk dapat mengakses tempat wudhu saat kepingin ikut jamaah sholat tarwih di Masjid Agung memerlukan proses yg bertahap dan sangat sulit, belum lagi kami masih harus berdebat dengan pengurus takmir yg memberikan peringatan pada kami bahwa ujung kruk (tongkat) dan ban kursi roda kami masih belum suci alias Najis. Subkhanalloh……haruskah kami juga mewudhukan kursi roda ini?, apakah memang betul Tuhan itu sulit ditemui oleh orang-orang macam kami?. Saya rasa tidak. Di sisi lain….dalam hal pelanggaran aturan, kedudukan anda dan saya sama. Sama-sama tidak mendapatkan dispensasi, subsidi atau permakluman. Bila saya dan anda sama-sama tidak mau menjalankan sholat wajib, maka kita akan mendapatkan neraka yg sama, tidak ada dispensasi untuk saya. Tidak ada satupun produk hukum, baik hukum Alloh maupun hukum buatan manusia yg memberikan permakluman ataupun belas kasihan pada orang-orang tertentu, seandainyapun ada rukhsoh (keringanan) itupun berlaku sama, baik pada anda maupun saya. Kedudukan kita dimata hukum sama. Bukannya kami mengeluh, karena memang tidak ada alasan sedikitpun bagi kami untuk mengeluh, tidak sepantasnyalah kami mengeluh setelah begitu banyaknya nikmat Tuhan yang sering kami tidak menyadarinya telah terlimpahkan kepada kami. Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk bisa lebih bersyukur dalam mengarungi topo broto ing wulan suci romadhon. Juga menjadi bahan pemikiran bagi masyarakat khususnya pengurus takmir agar dalam mendesain rumah Alloh (masjid) juga memikirkan aksesibilitas orang-orang macam kami, tidaklah berlebihan kiranya bila kami juga ingin ikut sholat berjamaah, bermunajat, i’tikaf bersama-sama anda.
Di kutip langsung dari blog :tulusbudiprasetyo.wordpress.com
Salam kenal pak dan terus berkarya..!

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar